temaram cahaya rembulan yang
merangsek masuk melalui kisi-kisi fentilasi, tak cukup memberikan gurat cahaya,
terlihat hanya seperti semburat lentera yang hampir redup ketiga pagi ingin
menyapa..
dan segalanya masih terasa suram….merundung
hingga ke sanubari..
Ya.. segores luka hadir disini,
meyempurnakan kegelapan ujung malam ini..
perih ini menjadi sembilu yang
terus menghujamkan sakitnya … sakit yang berpola, dalam alunan elegi
keputus-asaan… yang secara terus-menerus mempatronkan keeksisan sebuah derita..
dan luka ini semakin menganga,
manakala kenangan itu kembali menyeruak, memutarkan rekamannya tentang cerita
indah percintaan..
Benar…. Hanya sebuah cerita,
karena hanya cerita yang mampu mengakhiri kisahnya dengan bahagia… tidak pada
kehidupan nyata..
hikayat cinta beralaskan
keabadian hanya terjadi pada dongeng rekaan, dari pujangga yang berhayal mengalami
asmara seperti tokoh-tokoh dalam ceritanya..
fantasi yang mengada-ada, dan
kadang menohok logika….
sungguh banyak cerita cinta yang
mematri kebohongan… berkalang kepalsuan…, dan menjual frase cinta untuk ego dan
nafsu duniawi..
seperti ceritaku…. Benar…, hanya
sebuah cerita…. Cerita yang sebenarnya, dan bukan cerita fiksi dalam karya
sastra, sehingga tak berakhir bahagia...
No comments:
Post a Comment